Showing posts with label Tausiyah. Show all posts
Showing posts with label Tausiyah. Show all posts

Tuesday, 16 February 2016

Tidak Ada Paksaan untuk Masuk Agama Islam


Tidak Ada Paksaan untuk Masuk Islam

Muhammad Abduh Tuasikal,

Bismillahirrohmanirrohim

Dakwah Islam begitu mulia, kita diajarkan untuk tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam.
Mendakwahi orang kafir untuk masuk Islam, hukumnya fardhu kifayah, artinya jika sebagian sudah mendakwahi mereka maka yang lain gugur kewajibannya. Karena mendakwahi mereka berarti telah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Hal ini bisa dilakukan dengan menjenguk mereka ketika sakit, sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjenguk anak kecil Yahudi untuk diajak masuk Islam. Akhirnya ia pun masuk Islam.
Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata,
كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِىٌّ يَخْدُمُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ « أَسْلِمْ » . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَسْلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ
“Dulu pernah ada seorang anak kecil Yahudi yang mengabdi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu suatu saat ia sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, lalu beliau mengatakan, “Masuklah Islam.” Kemudian anak kecil itu melihat ayahnya yang berada di sisinya. Lalu ayahnya mengatakan, “Taatilah Abal Qosim (yaitu Rasulullah) –shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Akhirnya anak Yahudi tersebut masuk Islam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak tersebut dari siksa neraka.” (HR. Bukhari no. 1356)
Walau boleh mendakwahi, namun haram memaksa orang Yahudi, Nashrani dan kafir lainnya untuk masuk Islam. Karena Allah Ta’ala berfirman,
لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al Baqarah: 256).
Ibnu Katsir menuturkan, “Janganlah memaksa seorang pun untuk masuk ke dalam Islam. Karena kebenaran Islam sudah begitu jelas dan gamblang. Oleh karenanya tidak perlu ada paksaan untuk memasuki Islam. Namun barangsiapa yang Allah beri hidayah untuk menerima Islam, hatinya semakin terbuka dan mendapatkan cahaya Islam, maka ia berarti telah memasuki Islam lewat petunjuk yang jelas. Akan tetapi, barangsiapa yang masih tetap Allah butakan hati, pendengaran dan penglihatannya, maka tidak perlu ia dipaksa-paksa untuk masuk Islam. Tidak ada manfaat jika masuk Islam dalam keadaan terpaksa. Para ulama telah menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah mengenai kaum Anshar. Namun maksud ayat ini adala umum.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 250).

Tafsir Surat Al Baqarah, ayat 256
} ﻟَﺎ ﺇِﻛْﺮَﺍﻩَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻗَﺪْ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﺍﻟﺮُّﺷْﺪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻲِّ ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﻜْﻔُﺮْ ﺑِﺎﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕِ ﻭَﻳُﺆْﻣِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺳْﺘَﻤْﺴَﻚَ ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻭَﺓِ ﺍﻟْﻮُﺛْﻘَﻰ ﻟَﺎ ﺍﻧْﻔِﺼَﺎﻡَ ﻟَﻬَﺎ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﻤِﻴﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ‏( 256 ‏) {
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui .
Firman Allah Swt.:
} ﻟَﺎ ﺇِﻛْﺮَﺍﻩَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦ {
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). (Al-Baqarah: 256)
Yakni janganlah kalian memaksa seseorang untuk masuk agama Islam, karena sesungguhnya agama Islam itu sudah jelas, terang, dan gamblang dalil-dalil dan bukti-buktinya. Untuk itu, tidak perlu memaksakan seseorang agar memeluknya. Bahkan Allah-lah yang memberinya hidayah untuk masuk Islam, melapangkan dadanya, dan menerangi hatinya hingga ia masuk Islam dengan suka rela dan penuh kesadaran. Barang siapa yang hatinya dibutakan oleh Allah, pendengaran dan pandangannya dikunci mati oleh-Nya, sesungguhnya tidak ada gunanya bila mendesaknya untuk masuk Islam secara paksa.
Mereka menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan suatu kaum dari kalangan Ansar, sekalipun hukum yang terkandung di dalamnya bersifat umum.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Yasar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Addi, dari Syu'bah, dari Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu ada seorang wanita yang selalu mengalami kematian anaknya, maka ia bersumpah kepada dirinya sendiri, "Jika anakku hidup kelak, aku akan menjadikannya seorang Yahudi". Ketika Bani Nadir diusir dari Madinah, di antara mereka ada anak-anak dari kalangan Ansar. Lalu mereka berkata, "Kami tidak akan menyeru anak-anak kami (untuk masuk Islam)." Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. (Al-Baqarah: 256)
Imam Abu Daud dan Imam Nasai meriwayatkan pula hadis ini, kedua-duanya meriwayatkannya dari Bandar dengan lafaz yang sama. Sedangkan dari jalur-jalur yang lain diriwayatkan hal yang semakna, dari Syu'bah.
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya melalui hadis Syu'bah dengan lafaz yang sama. Hal yang sama disebutkan oleh Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Asy-Sya'bi, dan Al-Hasan Al-Basri serta lain-lainnya, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut.
Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad Al-Jarasyi, dari Zaid ibnu Sabit, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). (Al-Baqarah: 256). Ibnu Abbas menceritakan: Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki Ansar dari kalangan Bani Salim ibnu Auf yang dikenal dengan panggilan Al-Husaini. Dia mempunyai dua orang anak lelaki yang memeluk agama Nasrani, sedangkan dia sendiri adalah seorang muslim. Maka ia bertanya kepada Nabi Saw., "Bolehkah aku memaksa keduanya (untuk masuk Islam)? Karena sesungguhnya keduanya telah membangkang dan tidak mau kecuali hanya agama Nasrani." Maka Allah menurunkan ayat ini berkenaan dengan peristiwa tersebut.
Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. As-Saddi meriwayatkan pula hal yang semakna, tetapi di dalam riwayatnya ditambahkan seperti berikut: Keduanya telah masuk agama Nasrani di tangan para pedagang yang datang dari negeri Syam membawa zabib (anggur kering). Ketika keduanya bertekad untuk ikut bersama para pedagang Syam itu, maka ayah keduanya bermaksud memaksa keduanya (untuk masuk Islam) dan meminta kepada Rasulullah Saw. agar mengutus dirinya untuk menyusul keduanya agar pulang kembali. Maka turunlah ayat ini.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Auf, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Abu Hilal, dari Asbaq yang menceritakan, "Pada mulanya aku memeluk agama mereka sebagai seorang Nasrani yang menjadi budak Umar ibnul Khajtab, dan ia selalu menawarkan untuk masuk Islam kepadaku, tetapi aku menolak. Maka ia membacakan firman-Nya: 'Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).' (Al-Baqarah: 256). Ia mengatakan, 'Hai Asbaq, seandainya kamu masuk Islam, niscaya aku akan mengangkatmu sebagai pegawai untuk mengurusi sebagian urusan kaum muslim'."
Golongan yang cukup banyak dari kalangan ulama berpendapat bahwa ayat ini diinterpretasikan dengan pengertian tertuju kepada kaum Ahli Kitab dan orang-orang yang termasuk ke dalam kategori mereka sebelum (mengetahui adanya) pe-nasakh -an dan penggantian, tetapi dengan syarat bila mereka membayar jizyah.
Ulama lain mengatakan bahwa ayat ini di- mansukh oleh ayat qital (perang). Wajib menyeru semua umat untuk memasuki agama Al-Hanif, yaitu agama Islam. Jika ada seseorang di antara mereka menolak untuk masuk ke dalam agama Islam serta tidak mau tunduk kepada peraturannya atau tidak mau membayar jizyah, maka ia diperangi hingga titik darah penghabisan. Yang demikian itulah makna ikrah, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
ﺳَﺘُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﺇِﻟﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﺃُﻭﻟِﻲ ﺑَﺄْﺱٍ ﺷَﺪِﻳﺪٍ ﺗُﻘﺎﺗِﻠُﻮﻧَﻬُﻢْ ﺃَﻭْ ﻳُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ
Kalian akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kalian akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). (Al-Fath: 16)
Dalam ayat yang lain Allah Swt berfirman:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺟﺎﻫِﺪِ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻭَﺍﻟْﻤُﻨﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﻭَﺍﻏْﻠُﻆْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ
Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. (At-Taubah: 73)
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻗﺎﺗِﻠُﻮﺍ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﻠُﻮﻧَﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﻭَﻟْﻴَﺠِﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﻏِﻠْﻈَﺔً ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ
Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripada kalian; dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (At-Taubah: 123)
Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan:
‏« ﻋَﺠِﺐَ ﺭَﺑُّﻚَ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻡٍ ﻳُﻘَﺎﺩُﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﺳِﻞِ ‏»
Tuhanmu kagum kepada suatu kaum yang digiring masuk ke surga dalam keadaan dirantai.
Makna yang dimaksud ialah para tawanan yang didatangkan ke negeri Islam dalam keadaan terikat oleh rantai dan belenggu. Sesudah itu mereka masuk Islam dan memperbaiki amal perbuatan serta hati mereka. Maka mereka kelak termasuk ahli surga.
Adapun mengenai hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yaitu:
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﻋَﻦْ ﺣُﻤَﻴْﺪٍ ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲٍ : ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺮَﺟُﻞٍ : " ﺃَﺳْﻠِﻢْ " ﻗَﺎﻝَ : ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺟِﺪُﻧِﻲ ﻛَﺎﺭِﻫًﺎ . ﻗَﺎﻝَ : " ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺖَ ﻛَﺎﺭِﻫًﺎ "
telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Humaid, dari sahabat Abas r.a. yang menceritakan: Bahwa Rasulullah Saw. pernah berkata kepada seorang lelaki, "Masuk Islamlah kamu !" Lelaki itu menjawab, "Sesungguhnya masih belum menyukainya." Nabi Saw. bersabda, "Sekalipun kamu belum menyukainya."
Hadis ini merupakan salah satu dari hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang, tetapi sahih. Hanya saja tidak termasuk ke dalam bab ini karena pada kenyataannya Nabi Saw. tidak memaksanya untuk masuk Islam, melainkan beliau menyerunya untuk masuk Islam, lalu lelaki itu menjawab bahwa ia masih belum mau menerimanya, bahkan masih tidak suka untuk masuk Islam. Maka Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, "Masuk Islamlah, sekalipun hatimu tidak suka, karena sesungguhnya Allah pasti akan menganugerahimu niat yang baik dan ikhlas."
*******************
Firman Allah Swt.:
} ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﻜْﻔُﺮْ ﺑِﺎﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕِ ﻭَﻳُﺆْﻣِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺳْﺘَﻤْﺴَﻚَ ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻭَﺓِ ﺍﻟْﻮُﺛْﻘَﻰ ﻟَﺎ ﺍﻧْﻔِﺼَﺎﻡَ ﻟَﻬَﺎ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﻤِﻴﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ {
Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 256)
Yakni barang siapa yang melepaskan semua tandingan dan berhala-berhala serta segala sesuatu yang diserukan oleh setan berupa penyembahan kepada selain Allah, lalu ia menauhidkan Allah dan menyembah-Nya semata serta bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, berarti ia seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya: maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat. (Al-Baqarah: 256)
Yaitu berarti perkaranya telah mapan dan berjalan lurus di atas tuntunan yang baik dan jalan yang lurus.
Abul Qasim Al-Bagawi meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Rauh Al-Baladi, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas (yaitu Salam ibnu Salim), dari Abu Ishaq, dari Hassan (yaitu Ibnu Qaid Al-Absi) yang menceritakan bahwa Umar r.a. pernah mengatakan, "Sesungguhnya al-jibt adalah sihir, dan tagut adalah setan. Sesungguhnya sifat berani dan sifat pengecut ada di dalam diri kaum lelaki; orang yang pemberani berperang membela orang yang tidak dikenalnya, sedangkan orang yang pengecut lari tidak dapat membela ibunya sendiri. Sesungguhnya kehormatan seorang lelaki itu terletak pada agamanya, sedangkan kedudukannya terletak pada akhlaknya, sekalipun ia seorang Persia atau seorang Nabat."
Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim melalui riwayat As-Sauri, dari Abu Ishaq, dari Hassan ibnu Qaid Al-Abdi, dari Umar.
Makna ucapan Umar tentang tagut —bahwa tagut adalah setan— sangat kuat, karena sesungguhnya pengertian tersebut mencakup semua bentuk kejahatan yang biasa dilakukan oleh ahli Jahiliah, seperti menyembah berhala dan meminta keputusan hukum kepadanya serta membelanya.
*******************
Firman Allah Swt.:
} ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺳْﺘَﻤْﺴَﻚَ ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻭَﺓِ ﺍﻟْﻮُﺛْﻘَﻰ {
Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus . (Al-Baqarah: 256)
Yakni sesungguhnya ia telah berpegang kepada agama dengan sarana yang sangat kuat. Hal itu diserupakan dengan buhul tali yang kuat lagi tak dapat putus. Pada kenyataannya tali tersebut dipintal dengan sangat rapi, kuat lagi halus, sedangkan ikatannya pun sangat kuat. Karena itu, disebutkan oleh firman-Nya: Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang . amat kuat yang tidak akan putus . (Al-Baqarah: 256)
Mujahid mengatakan bahwa al-'urwatil wusqa artinya iman. Menurut As-Saddi artinya agama Islam, sedangkan menurut Sa'id ibnu Jubair dan Ad-Dahhak artinya ialah kalimah "Tidak ada Tuhan selain Allah." '
Menurut sahabat Anas ibnu Malik,
al-'urwatul wusqa artinya Al-Qur'an. Menurut riwayat yang bersumber dari Salim ibnu Abul Ja'd, yang dimaksud adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.
Semua pendapat di atas benar, satu sama lainnya tidak bertentangan.
Sahabat Mu'az ibnu Jabal mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
yang tidak akan putus . (Al-Baqarah: 256), Bahwa yang dimaksud dengan terputus ialah tidak dapat masuk surga.
Mujahid dan Sa'id ibnu Jubair sehubungan dengan pengertian yang ada di dalam firman-Nya: maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus . (Al-Baqarah: 256), Kemudian membacakan ayat berikut, yaitu firman-Nya:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳُﻐَﻴِّﺮُ ﻣَﺎ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻐَﻴِّﺮُﻭﺍ ﻣَﺎ ﺑِﺄَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri . (Ar-Ra'd: 11)
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﺃَﺣْﻤَﺪُ : ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺇِﺳْﺤَﺎﻕُ ﺑْﻦُ ﻳُﻮﺳُﻒَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺍﺑْﻦُ ﻋَﻮْﻥٍ ﻋَﻦْ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻋَﻦْ ﻗَﻴْﺲِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺩٍ ﻗَﺎﻝَ : ﻛُﻨْﺖُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻓَﺠَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﺃَﺛَﺮٌ ﻣِﻦْ ﺧُﺸُﻮﻉٍ، ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﻓَﺼَﻠَّﻰ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺃَﻭْﺟَﺰَ ﻓِﻴﻬِﻤَﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡُ : ﻫَﺬَﺍ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ . ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺧَﺮَﺝَ ﺍﺗَّﺒَﻌْﺘُﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﺩَﺧَﻞَ ﻣَﻨْﺰِﻟَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻠْﺖُ ﻣَﻌَﻪُ ﻓَﺤَﺪَّﺛْﺘُﻪُ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺍﺳْﺘَﺄْﻧَﺲَ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻪُ : ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﻟَﻤَّﺎ ﺩَﺧَﻠْﺖَ ﻗَﺒْﻞُ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ . ﻗَﺎﻝَ : ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻟِﺄَﺣَﺪٍ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻭَﺳَﺄُﺣَﺪِّﺛُﻚَ ﻟِﻢَ : ﺇِﻧِّﻲ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺭُﺅْﻳَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭﺳﻠﻢ ﻓَﻘَﺼَﺼْﺘُﻬَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ : ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻛَﺄَﻧِّﻲ ﻓِﻲ ﺭَﻭْﺿَﺔٍ ﺧَﻀْﺮَﺍﺀَ - ﻗَﺎﻝَ ﺍﺑْﻦُ ﻋَﻮْﻥٍ : ﻓَﺬَﻛَﺮَ ﻣِﻦْ ﺧُﻀْﺮَﺗِﻬَﺎ ﻭَﺳِﻌَﺘِﻬَﺎ -ﻭَﺳَﻄُﻬَﺎ ﻋَﻤُﻮﺩُ ﺣَﺪِﻳﺪٍ ﺃَﺳْﻔَﻠُﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﺃَﻋْﻠَﺎﻩُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻓِﻲ ﺃَﻋْﻠَﺎﻩُ ﻋُﺮْﻭَﺓٌ، ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻟِﻲَ : ﺍﺻْﻌَﺪْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻘُﻠْﺖُ : ﻟَﺎ ﺃَﺳْﺘَﻄِﻴﻊُ . ﻓَﺠَﺎﺀَﻧِﻲ ﻣِﻨْﺼَﻒ - ﻗَﺎﻝَ ﺍﺑْﻦُ ﻋَﻮْﻥٍ : ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻮَﺻِﻴﻒُ - ﻓَﺮَﻓَﻊَ ﺛِﻴَﺎﺑِﻲ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻲ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍﺻْﻌَﺪْ . ﻓَﺼَﻌِﺪْﺕُ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﺧَﺬْﺕُ ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻭَﺓِ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍﺳْﺘَﻤْﺴِﻚْ ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻭَﺓِ . ﻓَﺎﺳْﺘَﻴْﻘَﻈْﺖُ ﻭَﺇِﻧَّﻬَﺎ ﻟَﻔِﻲ ﻳَﺪِﻱ ﻓَﺄَﺗَﻴْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘَﺼَﺼْﺘُﻬَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ . ﻓَﻘَﺎﻝَ : " ﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟﺮَّﻭْﺿَﺔُ ﻓَﺮَﻭْﺿَﺔُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﻌَﻤُﻮﺩُ ﻓَﻌَﻤُﻮﺩُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﻌُﺮْﻭَﺓُ ﻓَﻬِﻲَ ﺍﻟْﻌُﺮْﻭَﺓُ ﺍﻟْﻮُﺛْﻘَﻰ، ﺃَﻧْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻤُﻮﺕَ "
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Ibnu Auf, dari Muhammad ibnu Qais ibnu Ubadah yang menceritakan bahwa ketika ia berada di dalam masjid, datanglah seorang lelaki yang pada roman mukanya ada bekas kekhusyukan. Lalu lelaki itu salat dua rakaat dengan singkat. Maka kaum yang ada di dalam masjid itu berkata, "Lelaki ini termasuk ahli surga." Ketika lelaki itu keluar (dari masjid), maka aku (Muhammad ibnu Qais ibnu Ubadah) mengikutinya hingga ia memasuki rumahnya. Aku ikut masuk bersamanya, dan aku mengobrol dengannya. Setelah kami saling berkenalan, aku katakan kepadanya, "Sesungguhnya kaum yang ada di masjid tadi ketika engkau masuk ke dalam masjid, mereka mengatakan anu dan anu." Lelaki itu menjawab, "Mahasuci Allah, tidak layak bagi seseorang mengatakan apa yang tidak diketahuinya. Aku akan menceritakan kepadamu mengapa demikian. Sesungguhnya aku pernah bermimpi sesuatu di masa Rasulullah, lalu aku ceritakan mimpi itu kepadanya. Aku melihat diriku berada di sebuah taman yang hijau —Ibnu Aun mengatakan bahwa lelaki itu menggambarkan suasana kesuburan taman dan luasnya—. Di tengah-tengah kebun itu terdapat sebuah tiang besi yang bagian bawahnya berada di bumi, sedangkan bagian atasnya berada di langit, dan pada bagian atasnya ada buhul tali-nya. Kemudian dikatakan kepadaku, 'Naiklah ke tiang itu.' Aku menjawab, 'Aku tidak dapat.' Lalu datanglah seorang yang memberi nasihat kepadaku —Ibnu Aun mengatakan bahwa orang tersebut adalah penjaga taman tersebut—. Orang itu mengangkat bajuku dari belakang seraya berkata, 'Naiklah!' Maka aku naik hingga dapat memegang tali tersebut. Orang tersebut berkata, 'Berpeganglah kepada tali ini.' Aku terbangun, dan sesungguhnya tali itu benar-benar masih berada dalam pegangan kedua tanganku. Aku datang kepada Rasulullah Saw., lalu kuceritakan kepadanya mimpi tersebut. Maka beliau bersabda:
'Adapun taman tersebut adalah. taman Islam, sedangkan tiang tersebut adalah tiang Islam; dan tali itu adalah tali yang kuat, artinya engkau tetap berada dalam agama Islam hingga mati'."
Perawi mengatakan bahwa lelaki tersebut adalah sahabat Abdullah ibnu Salam.
Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini di dalam kitab Sahihain melalui riwayat Abdullah ibnu Aun, maka aku (perawi) berdiri menghormatinya. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari melalui jalur lain, dari Muhammad ibnu Sirin dengan lafaz yang sama.
Jalur yang lain dan teks yang lain :
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﺃَﺣْﻤَﺪُ : ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺣَﺴَﻦُ ﺑْﻦُ ﻣُﻮﺳَﻰ ﻭَﻋَﻔَّﺎﻥُ ﻗَﺎﻟَﺎ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺣَﻤَّﺎﺩُ ﺑْﻦُ ﺳَﻠَﻤَﺔَ، ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺻِﻢِ ﺑْﻦِ ﺑَﻬْﺪَﻟَﺔَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﺴَﻴَّﺐِ ﺑْﻦِ ﺭَﺍﻓِﻊٍ ﻋَﻦْ ﺧَﺮَﺷَﺔَ ﺑْﻦِ ﺍﻟﺤُﺮِّ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺪِﻣْﺖُ ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔَ ﻓَﺠَﻠَﺴْﺖُ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﺸْﻴَﺨَﺔٍ ﻓِﻲ ﻣَﺴْﺠِﺪِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ . ﻓَﺠَﺎﺀَ ﺷَﻴْﺦٌ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﺄُ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺼًﺎ ﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡُ : ﻣَﻦْ ﺳَﺮَّﻩُ ﺃَﻥَّ ﻳَﻨْﻈُﺮَ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺟُﻞٍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ ﺇِﻟَﻰ ﻫَﺬَﺍ . ﻓَﻘَﺎﻡَ ﺧَﻠْﻒَ ﺳَﺎﺭِﻳَﺔٍ ﻓَﺼَﻠَّﻰ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻓَﻘُﻤْﺖُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ، ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻟَﻪُ : ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ : ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ . ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻳُﺪﺧﻠﻬﺎ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺇِﻧِّﻲ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺭُﺅْﻳَﺎ، ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻛَﺄَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺃَﺗَﺎﻧِﻲ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍﻧْﻄَﻠِﻖْ . ﻓَﺬَﻫَﺒْﺖُ ﻣَﻌَﻪُ ﻓَﺴَﻠَﻚَ ﺑِﻲ ﻣَﻨْﻬَﺠًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ ﻓَﻌَﺮَﺿَﺖْ ﻟِﻲ ﻃَﺮِﻳﻖٌ ﻋَﻦْ ﻳَﺴَﺎﺭِﻱ، ﻓَﺄَﺭَﺩْﺕُ ﺃَﻥْ ﺃَﺳْﻠُﻜَﻬَﺎ . ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﺴْﺖَ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ . ﺛُﻢَّ ﻋَﺮَﺿَﺖْ ﻟِﻲ ﻃﺮﻳﻖ ﻋﻦ ﻳَﻤِﻴﻨِﻲ ﻓَﺴَﻠَﻜْﺘُﻬَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﺍﻧْﺘَﻬَﺖْ ﺇِﻟَﻰ ﺟَﺒَﻞٍ ﺯَﻟَﻖٍ ﻓَﺄَﺧَﺬَ ﺑِﻴَﺪِﻱ ﻓَﺰَﺟَﻞَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺫُﺭْﻭَﺗِﻪِ، ﻓَﻠَﻢْ ﺃَﺗَﻘَﺎﺭَّ ﻭَﻟَﻢْ ﺃَﺗَﻤَﺎﺳَﻚْ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻋَﻤُﻮﺩُ ﺣَﺪِﻳﺪٍ ﻓِﻲ ﺫُﺭْﻭَﺗِﻪِ ﺣَﻠْﻘَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺫَﻫَﺐٍ ﻓَﺄَﺧَﺬَ ﺑِﻴَﺪِﻱ ﻓَﺰَﺟَﻞَ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﺧَﺬْﺕُ ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻭَﺓِ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍﺳْﺘَﻤْﺴِﻚْ . ﻓَﻘُﻠْﺖُ : ﻧَﻌَﻢْ . ﻓَﻀَﺮَﺏَ ﺍﻟْﻌَﻤُﻮﺩَ ﺑِﺮِﺟْﻠِﻪِ ﻓَﺎﺳْﺘَﻤْﺴَﻜْﺖُ ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻭَﺓِ، ﻓَﻘَﺼَﺼْﺘُﻬَﺎ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓَﻘَﺎﻝَ : " ﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﻤَﻨْﻬَﺞُ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢُ ﻓَﺎﻟْﻤَﺤْﺸَﺮُ، ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻋَﺮَﺿَﺖْ ﻋَﻦْ ﻳَﺴَﺎﺭِﻙَ ﻓَﻄَﺮِﻳﻖُ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻭَﻟَﺴْﺖَ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ، ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻋَﺮَﺿَﺖْ ﻋَﻦْ ﻳَﻤِﻴﻨِﻚَ ﻓَﻄَﺮِﻳﻖُ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﺠَﺒَﻞُ ﺍﻟﺰَّﻟَﻖُ ﻓَﻤَﻨْﺰِﻝُ ﺍﻟﺸُّﻬَﺪَﺍﺀِ، ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﻌُﺮْﻭَﺓُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺍﺳْﺘَﻤْﺴَﻜْﺖَ ﺑِﻬَﺎ ﻓَﻌُﺮْﻭَﺓُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻓَﺎﺳْﺘَﻤْﺴِﻚْ ﺑِﻬَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻤُﻮﺕَ ." ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﺭْﺟُﻮ ﺃَﻥْ ﺃَﻛُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ . ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻫُﻮَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﺳَﻠَﺎﻡٍ
Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa dan Usman. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Asim ibnu Bahdalah, dari Al-Musayyab ibnu Rafi', dari Kharsyah ibnul Hur yang menceritakan hadis berikut: Aku tiba di Madinah, lalu aku duduk (bergabung) dengan halqah salah seorang guru di Masjid Nabawi. Lalu datanglah seorang syekh (guru) yang bertopang pada sebilah tongkat, maka kaum yang ada berkata, "Barang siapa yang ingin melihat seorang lelaki dari kalangan ahli surga, hendaklah ia memandang syekh ini." Kemudian syekh itu berdiri di belakang sebuah tiang dan melakukan salat dua rakaat. Lalu aku berkata kepadanya, "Sebagian dari kaum mengatakan anu dan anu." Maka ia menjawab, "Surga adalah milik Allah, Dia memasukkan ke dalamnya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya aku pernah mengalami sebuah mimpi di zaman Rasulullah Saw. Aku melihat dalam mimpiku itu seakan-akan ada seorang lelaki datang kepadaku, lalu lelaki itu berkata, 'Berangkatlah.' Maka aku berangkat bersamanya, dan ia menempuh sebuah jalan yang besar bersamaku. Lalu ada sebuah jalan di sebelah kiriku; ketika aku hendak menempuhnya, lelaki itu berkata, 'Sesungguhnya kamu bukan termasuk ahlinya.' Kemudian tampak sebuah jalan di sebelah kananku, dan aku langsung menempuhnya hingga sampai di sebuah bukit yang licin. Lalu ia memegang tanganku dan mendorongku, tiba-tiba diriku telah berada di puncak bukit tersebut; aku merasa diriku tidak tetap dan tiada pegangan. Kemudian muncullah sebuah tiang besi yang di puncaknya terdapat tali emas. Maka ia memegang tanganku dan mendorongku hingga aku dapat memegang tali tersebut, lalu ia berkata, 'Berpeganglah.' Aku menjawab, 'Ya.' Lalu ia memanjatkan kakinya ke tiang tersebut, dan aku berpegang dengan tali itu. Lalu aku kisahkan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Maka beliau menjawab:
'Kamu telah melihat kebaikan; adapun jalan yang besar itu adalah padang mahsyar, adapun jalan yang tampak di sebelah kirimu adalah jalan ahli neraka, sedangkan kamu bukan termasuk ahlinya. Dan adapun jalan yang tampak di sebelah kananmu adalah jalan ahli surga, dan adapun mengenai bukit yang licin itu adalah kedudukan para syuhada, sedangkan tali yang menjadi peganganmu itu adalah tali Islam. Maka berpeganglah kepadanya hingga kamu mati.' Lalu Syekh itu berkata, 'Sesungguhnya aku hanya berharap semoga diriku ini termasuk ahli surga'." Perawi mengatakan, ternyata Syekh itu adalah Abdullah ibnu Salam.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai, dari Ahmad ibnu Sulaiman, dari Affan dan Ibnu Majah, dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Al-Hasan ibnu Musa Al-Asyyab. Keduanya meriwayatkannya pula dari Hammad ibnu Salimah dengan lafaz yang semisal.
Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab sahihnya melalui hadis Al-A'masy, dari Sulaiman ibnu Mishar, dari Kharsyah ibnul Hur Al-Fazari dengan lafaz yang sama.

Cukup dengan sikap baik (ihsan) yang kita tunjukkan pada mereka membuat mereka tertarik pada Islam, tanpa harus memaksa.

Semoga Allah memberikan hidayah pada Islam yang hakiki.

Wallahu A'lam Bish showab

18 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul
Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc
Artikel Rumaysho.Com

Thursday, 11 February 2016

Larangan Tajassus, Mencari-cari Kesalahan Orang Lain

Larangan Tajassus, Mencari-cari Kesalahan Orang Lain

Bismillahirrohmanirrohim,

#Tajassus kalau dalam istilah kita dinamakan dengan memata-matai (spionase) atau mengorek-orek berita. Sehingga dalam lingkungan pesantren kata itu sering kali digunakan dan menyebutnya sebagai ‘jaasuus’ atau mata-mata.
Namun dalam kamus literatur bahasa Arab, misalnya kamus Lisan al-‘Arab karangan Imam Ibnu Manzhur, tajassus berarti “bahatsa ‘anhu wa fahasha” yaitu mencari berita atau menyelidikinya.[1]
Sementara dalam kamus karangan orang Indonesia, misalnya dalam kamus Al-Bishri, tajassus berasal dari kata “jassa-yajussu-jassan” kemudian berimbuhan huruf ta di awal kalimat dan di-tasydid huruf sin-nya maka menjadi kata “tajassasa-yatajassasu-tajassusan” yang berarti menyelidiki atau memata-matai.[2]
Dari pengertian tersebut, maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa tajassus adalah mencari-cari kesalahan orang lain dengan menyelidikinya atau memata-matai. Dan sikap tajassus ini termasuk sikap yang dilarang dalam Alquran maupun hadis.
Larangan Bersikap Tajassus
Allah Ta’ala berfirman,
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻣِّﻦَ ﺍﻟﻈَّﻦِّ ﺇِﻥَّ ﺑَﻌْﺾَ ﺍﻟﻈَّﻦِّ ﺇِﺛْﻢٌ ۖ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠَﺴَّﺴُﻮﺍ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12)
Dalam ayat tersebut, Allah Ta’alamelarang kita untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Entah itu dengan kita menyelidikinya secara langsung atau dengan bertanya kepada temannya. Tajassus biasanya merupakan kelanjutan dari prasangka buruk sebagaimana yang Allah Ta’alalarang dalam beberapa kalimat sebelum pelarangan sikap tajassus.
Larangan Tajassus, Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Larangan dari hadis
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ﺇِﻳَّﺎ ﻛُﻢْ ﻭَﺍﻟﻈَّﻦَّ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ﺃَﻛْﺬَﺏُ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻻَ ﺗَﺤَﺴَّﺴُﻮﺍ ﻭَﻻَ ﺗَﺠَﺴَّﺴُﻮﺍ ﻭَﻻَ ﺗَﺤَﺎﺳَﺪُﻭﺍ ﻭَﻻَﺗَﺪَﺍﺑَﺮُﻭﺍ ﻭَﻻَﺗَﺒَﺎﻏَﻀُﻮﺍ ﻭَﻛُﻮْﻧُﻮﺍﻋِﺒَﺎﺩَﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇﺣْﻮَﺍﻧًﺎ
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”[3]
Perkataan Ulama Salaf tentang Tajassus
Amirul Mukminin Umar bin Khaththabradhiyallahu ‘anhu berkata,
(( ﻭﻻ ﺗﻈﻨَّﻦَّ ﺑﻜﻠﻤﺔ ﺧﺮﺟﺖ ﻣﻦ ﺃﺧﻴﻚ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺇﻻَّ ﺧﻴﺮﺍً، ﻭﺃﻧﺖ ﺗﺠﺪ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻣَﺤﻤﻼً ))
“Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik.”[4]
Syekh Abu Bakar bin Jabir al-Jazairirahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ke 12 dari surat Al-Hujurat, “haram mencari kesalahan dan menyelidiki aib-aib kaum muslimin dan menyebarkannya serta menelitinya”[5].
Syekh As-Sa’di rahimahullahberkata, “janganlah kalian meneliti aurat (aib) kaum muslimin dan janganlah kalian menyelidikinya.”[6]
Murid dari Syaikh as-Sa’di yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga berkata, “tajassus yaitu mencari aib-aib orang lain atau menyelidiki kejelekan saudaranya”[7].
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh juga menuturkan ketika menafsirkan ayat di atas sebagai berikut, “maksudnya adalah atas sebagian kalian. Kata ‘tajassus’ lebih sering digunakan untuk suatu kejahatan. Sedangkan kata ‘tahassus’ seringkali digunakan untuk hal yang baik. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, yang menceritakan tentang nabi Ya’qub ‘alaihissalam, di mana Dia berfirman dalam surat Yusuf ayat 87.
ﻳَﺎ ﺑَﻨِﻲَّ ﺍﺫْﻫَﺒُﻮﺍ ﻓَﺘَﺤَﺴَّﺴُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﻳُﻮﺳُﻒَ ﻭَﺃَﺧِﻴﻪِ
(Ya’qub berkata) “Wahai anak-anakku, pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya…” (QS. Yusuf: 87)
Namun terkadang kedua kata tersebut digunakan untuk menunjukkan hal yang buruk, sebagaimana ditegaskan dalam hadis sahih di atas.”[8]
Imam Abu Hatim al-Bustirahimahullah berkata, “tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.”[9]
Nasihat Bagi Yang Suka Mencari Kesalahan Orang Lain
Cukuplah buat kita sebuah untaian perkataan seorang imam yaitu Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi berkata dalam sebuah kitabnya yang dikutip oleh Syekh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr dalam tulisannya sebagai berikut, ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.”[10]
Semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah dalam berakhlak karimah dan menjauhi sifat-sifat buruk dan sikap yang merugikan diri kita sendiri. Aamiin. [Afwan Awwab]

Wallahu A'lam Bish showab
Catatan Kaki
[1] Lisan al-‘Arab, jilid 3 halaman 147
[2] Kamus al-Bishri, halaman 74
[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadis no. 6064 dan Muslim hadis no. 2563
[4] Rifqan Ahlu as-Sunnah bi Ahli as-Sunnah, halaman 10
[5] Aisar at-Tafaasir li Kalam al-‘Aliy al-Kabir, halaman 128
[6] Taisir al-Karim ar-Rahman fi tafsir al-Kalam al-Mannan, halaman 801
[7] Tafsiir al-Quran al-Karim: al-Hujurat ila al-Hadid, halaman 51
[8] Lubab at-Tafsir min Ibn Katsir, halaman 731
[9] Raudhah al-Uqala’, halaman 131
[10] Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’
Daftar Pustaka:
Al-Abbad, Abdulmuhsin bin Hamd. Rifqan Ahlu as-Sunnah bi Ahli as-Sunnah.
Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir. Aisar at-Tafaasir li Kalam al-‘Aliy al-Kabir. Maktabah al-Ulum wal al-Hikam: Madinah Munawwarrah. Jilid ke-5.
As-Sa’di. Taisir al-Karim ar-Rahman fi tafsir al-Kalam al-Mannan. Muassasah ar-Risalah.
Al-Busthim Muhammad bin Hibban. Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’. Dar al-Ilmiyyah: Beirut.
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. Lubab at-Tafsir min Ibn Katsir.
Muassasah Dar al-Hilal: Kairo. Pustaka Imam Syafi’i: Jakarta.
Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Tafsiir al-Quran al-Karim: al-Hujurat ila al-Hadid. Dar ats-Tsurayya li an-Nashr: Saudi Arabia. Cetakan ke-1.

Raih Amal Shalih, Sebarkan...

Wednesday, 10 February 2016

Etika [Adab] Bekerja dan Mencari Rezeki Dalam Islam


Etika [Adab] Bekerja dan Mencari Rezeki Dalam Islam

Bismillahirrohmanirrohim,

Sahabat Islam, dalam mewujudkan nilai-nilai ibadah dalam bekerja, diperlukan adab dan etika yang membingkainya, sehingga nilai-nilai luhur tersebut tidak hilang sia-sia. Diantara adab dan etika bekerja dalam Islam adalah :
1. Bekerja dengan ikhlas karena Allah SWT.
Ini merupakan hal dan landasan terpenting. Artinya ketika bekerja, niat utamanya adalah karena Allah SWT.
2. Itqon, tekun dan sungguh-sungguh dalam bekerja.
Kita tahu bahwa kehadiran tepat pada waktunya, menyelesaikan apa yang sudah menjadi kewajibannya secara tuntas, tidak menunda-nunda pekerjaan, tidak mengabaikan pekerjaan, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari esensi bekerja itu sendiri yang merupakan ibadah kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits, riwayat Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, dia itqan (menyempurnakan) pekerjaannya." (HR. Thabrani).
3. Jujur dan amanah.
Implementasi jujur dan amanah dalam bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, tidak curang, obyektif dalam menilai, dan sebagainya. Rasulullah SAW memberikan janji bagi orang yang jujur dan amanah akan masuk ke dalam surga bersama para shiddiqin dan syuhada'. Dalam hadits riwayat Imam Turmudzi : Dari Abu Said Al-Khudri ra, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Pebisnis yang jujur lagi dipercaya (anamah) akan bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada.”
4. Menjaga etika sebagai seorang muslim.
Bekerja juga harus memperhatikan adab dan etika sebagai seroang muslim, seperti etika dalam berbicara, menegur, berpakaian, bergaul , makan, minum, berhadapan dengan pelanggan, rapat, dan sebagainya. Bahkan akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mu'min. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan :
"Orang mu'min yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya." (HR. Turmudzi).
5. Tidak melanggar prinsip-prinsip syariah.
Aspek lain dalam etika bekerja dalam Islam adalah tidak boleh melanggar prinsip-prinsip syariah dalam pekerjaan yang dilakukannya. Tidak melanggar prinsip syariah ini dapat dibagi menjadi beberapa hal. Pertama, dari sisi dzat atau substansi dari pekerjaannya, seperti memproduksi barang yang haram, menyebarluaskan kefasadan (seperti pornografi dan permusuhan),
riba, risywah dan sebagainya. Kedua , dari sisi penunjang yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan, seperti tidak menutup aurat, ikhtilat antara laki-laki dengan perempuan, membuat fitnah dalam persaingan dan sebagainya. Pelanggaran-pelanggaran terhadap prinsip syariah, selain mengakibatkan dosa dan menjadi tidak berkahnya harta, juga dapat menghilangkan pahala amal shaleh kita dalam bekerja. Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya dan janganlah kalian membatalkan amal perbuatan/pekerjaan kalian..."
6. Menghindari syubhat.
Dalam bekerja terkadang seseorang dihadapkan dengan adanya syubhat atau sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya. Seperti unsur-unsur pemberian dari pihak luar, yang terdapat indikasi adanya satu kepentingan terntentu. Atau seperti bekerja sama dengan pihak-pihak yang secara umum diketahui kedzaliman atau pelanggarannya terhadap syariah. Dan syubhat semacam ini dapat berasal dari internal maupun eksternal. Oleh karena itulah, kita diminta hati-hati dalam kesyubhatan ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:
"Halal itu jelas dan haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka ia terjerumus pada yang diharamkan..." (HR. Muslim)
7. Menjaga ukhuwah Islamiyah.
Aspek lain yang juga sangat penting diperhatikan adalah masalah ukhuwah islamiyah antara sesama muslim. Jangan sampai dalam bekerja atau berusaha melahirkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin. Rasulullah SAW sendiri mengemukakan tentang hal yang bersifat prefentif agar tidak merusak ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Beliau mengemukakan,
"Dan janganlah kalian menjual barang yang sudah dijual kepada saudara kalian" (HR. Muslim).
Karena jika terjadi kontradiktif dari hadits tersebut, tentu akan merenggangkan juga ukhuwah Islamiyah diantara mereka, saling curiga dan sebagainya. Karena masalah pekerjaan atau bisnis yang menghasilkan uang, akan sangat sensitif bagi palakunya. Kaum Anshar dan Muhajirin yang secara sifat, karakter, background dan pola pandangnya sangat berbeda telah memberikan contoh sangat positif bagi kita, yaitu ukhuwah islamiyah. Salah seorang sahabat Anshar bahkan mengatakan kepada Muhajirin, jika kamu mau, saya akan bagi dua seluruh kekayaan saya, rumah, harta, kendaraan, bahkan (yang sangat pribadipun direlakan), yaitu istri. Hal ini terjadi lantaran ukhuwah antara mereka yang demikian kokohnya.

Ranjau-Ranjau Berbahaya Dalam Dunia Kerja

Dunia kerja adalah dunia yang terkadang dikotori oleh ambisi-ambisi negatif manusia, ketamakan, keserakahan, keinginan menang sendiri, dan sebagainya. Karena dalam dunia kerja, umumnya manusia memiliki tujuan utama hanya untuk mencari materi. Dan tidak jarang untuk mencapai tujuan tersebut, segala cara digunakan. Sehingga sering kita mendengar istilah, injak bawah, jilat atas dan sikut kiri kanan. (Na'udzu billah min dzalik). Oleh karenanya, disamping kita perlu untuk menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik dalam bekerja, kitapun harus mewaspadai ranjau-ranjau berbahaya dalam dunia kerja serta berusaha untuk menghindarinya semaksimal mungkin. Karena dampak negatif dari ranjau-ranjau ini sangat besar, diantaranya dapat memusnahkan seluruh pahala amal shaleh kita. Berikut adalah diantara beberapa sifat-sifat buruk dalam dunia kerja yang perlu dihindari dan diwaspadai:
1. Hasad (Dengki)
Hasad atau dengki adalah suatu sifat, yang sering digambarkan oleh para ulama dengan ungkapan "senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang". Sifat ini sangat berbahaya, karena akan "menghilangkan" pahala amal shaleh kita dalam bekerja.Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
Dari Abu Hurairah ra berkata, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah oleh kalian sifat hasad (iri hati), karena sesungguhnya hasad itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar.” (HR. Abu Daud)
2. Saling Bermusuhan
Tidak jarang, ketika orang yang sama-sama memiliki ambisi dunia berkompetisi untuk mendapatkan satu jabatan tertentu, atau ingin mendapatkan "kesan baik" di mata atasan, atau sama-sama ingin mendapatkan proyek tertentu, kemudian saling fitnah, saling tuduh, lalu saling bermusuhan. Jika sifat permusuhan merasuk dalam jiwa kita, dan tidak berusaha kita hilangkan, maka akibatnya juga sangat fatal, yaitu bahwa amal shalehnya akan "dipending" oleh Allah SWT, hingga mereka berbaikan. Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda :
Dari Abu Hurairah ra berkata,bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pintu-pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis, maka pada hari itu akan diampuni dosa setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali seseorang yang sedang bermusuhan dengan saudaranya sesama muslim, maka dikatakan kepada para malaikat, “Tangguhkan dua orang ini sampai mereka berbaikan.” (HR. Muslim).
3. Berprasangka Buruk
Sifat inipun tidak kalah negatifnya. Karena ambisi tertentu atau hal tertentu, kemudian menjadikan kita bersu'udzon atau berprasangka buruk kepada saudara kita sesama muslim, yang bekerja dalam satu atap bersama kita, khususnya ketika ia mendapatkan reward yang lebih baik dari kita. Sifat ini perlu dihindari karena merupakan sifat yang dilarang oleh Allah & Rasulullah SAW, di samping juga bahwa sifat ini merupakan pintu gerbang ke sifat negatif lainnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,
“Jauhilah oleh kalian prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka buruk itu adalah sedusta-dustanya perkataan. Dan janganlah kalian mencari-cari berita kesalahan orang lain, dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah kalian saling mementingkan diri sendiri, dan janganlah kalian saling dengki, dan janganlah kalian saling marah, dan jangan lah kalian saling memusuhi dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersudara.” (HR. Muslim)
4. Sombong
Di sisi lain, terkadang kita yang mendapatkan presetasi sering terjebak pada satu bentuk kearogansian yang mengakibatkan pada sifat kesombongan. Merasa paling pintar, paling profesional, paling penting kedudukan dan posisinya di kantor, dan sebagainya. Kita harus mewaspadai sifat ini, karena ini merupakan sifatnya syaitan yang kemudian menjadikan mereka dilaknat oleh Allah SWT serta dijadikan makhluk paling hina diseluruh jagad raya ini. Sifat ini pun sangat berbahaya, karena dapat menjadikan pelakunya diharamkan masuk ke dalam surga (na'udzu billah min dzalik). Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda :
"Tidak akan pernah masuk ke dalam surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat satu biji sawi sifat kesombongan" (HR. Muslim).
5. Namimah (mengadu domba)
Indahnya dunia terkadang membutakan mata. Keingingan mencapai sesuatu, meraih kedudukan tinggi, memiliki gaji yang besar, tidak jarang menjerumuskan manusia untuk saling fitnah dan adu domba. Sifat ini teramat sangat berbahaya, karena akan merusak tatanan ukhuwah dalam dunia kerja. Di samping itu, sifat sangat dimurkai oleh Allah serta dibenci Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda :
Dari Hudzaifah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersbada :
“Tidak akan masuk surga sesroang yang suka mengadu domba.” (HR Bukhari Muslim)
Sahabat Islam, masih banyak sesungguhnya sifat-sifat lain yang perlu dihindari. Namun setidaknya kelima ranjau berbahaya tadi, dapat menggugah kita untuk menjauhi segala ranjau-ranjau berbahaya lainnya khususnya dalam kehidupan dunia kerja. Jadi, sekarang mari kita bekerja dengan niat ikhlas, hiasi dengan sifat-sifat positif dan songsonglah hari esok dengan penuh kegemilangan serta keridhaan dari Allah SWT.

adab mencari rezeki yang halal
Adab Mencari Rezeki

Dunia adalah tempat kita bercocok tanam. Sedang akhirat, tempat kita menuai basil. Meski demikian, Islam tak pernah melarang umatnya untuk berikhtiar mengais rezeki dunia. Hanya saja, ada beberapa rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam mencari rezeki tersebut.
1. Mencari Rezeki adalah Ibadah
Motivasi paling kuat dalam mencari rezeki adalah menjadikannya sebagai amal ibadah. Firman Allah, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah sebanyak-banyaknya dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (al-Jumu’ah [62]: 10).
2. Memelihara Iman
Modal awal seorang Muslim dalam berusaha adalah takwa. Selain itu, ia juga menjadi kunci utama mendatangkan rezeki. Allah berfirman, “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (ath-Thalaq [65[: 2-3).
3. Mencari yang Halal
Sabda Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam (SAW), "Tak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan? Tentang ilmunya, dalam hal apa dia amalkan? Tentang hartanya, darimana dia dapatkan dan kemana ia nafkahkan? Dan tentang badannya, dalam hal apa dia binasakan?" (Riwayat at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib).
4. Memperbanyak Istighfar dan Taubat
Firman Allah, "Maka Aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (Nuh [71]: 10-12).
5. Rajin Berinfak
Ibnu Katsir menjelaskan: Betapapun sedikit harta yang kamu infakkan pada perkara yang diperintahkan kepadamu, ataupun yang bersifat mubah (boleh), niscaya Allah pasti menggantinya untukmu di dunia. Sedang di akhirat kamu akan diberi pahala dan ganjaran. Firman Allah, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (Saba’ [34]: 39).
6. Ringan Tangan kepada Orang Lemah
Memuliakan dan suka menolong orang lemah menjadi salah satu rahasia dalam mencari rezeki. Sabda Nabi SAW, “Tidaklah kalian mendapatkan pertolongan dan mendapatkan rezeki melainkan disebabkan orang-orang lemah di antara kalian.” (Riwayat al-Bukhari).
7. Menyambung Tali Silaturahim
Sabda Rasulullah SAW, “Pelajarilah nasab-nasab kalian agar kalian dapat menyambung tali silaturahim kerabat-kerabat kalian. Karena sesungguhnya menyambung tali silaturaltim itu adalah sebab kecintaan di dalam keluarga, sebab berlimpahnya harta, dan sebab tertundanya ajal (umur diperpanjang).” (Riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Hakim)
8. Tidak Meminta-minta
Sabda Nabi SAW, “Salah seorang dari kalian senantiasa meminta-minta sehingga dia akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak ada daging di wajahnya.” (Muttafaq ‘alaihi).
9. Bersikap Zuhud
Zuhud adalah obat penawar dari kegemerlapan dunia. Dengannya, seorang Muslim dapat terjaga dari fitnah dunia. Wasiat Nabi SAW, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang dalam perjalanan.” (Riwayat al-Bukhari)
10.Tawakkal kepada Allah
Firman Allah, “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (Ath-Thalaq [65]:s . Tawakkal di sini tak bermakna berpangku tangan, tanpa mau berusaha sedikit pun.***[masykur/tyn/infokito.net]
Wallahu a’lam bish showab
Wabillahi taufik wal hidayah

Monday, 4 January 2016

Keutamaan Bangun Subuh

Keutamaan Bangun Shubuh

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Apa ada keutamaan bangun Shubuh? Kita tahu setiap muslim punya kewajiban untuk bangun shubuh karena ada shalat fardhu yang mesti ditunaikan kala itu.
Bisikan Setan Lewat Tiga Ikatan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻋَﻘِﺪَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﺎﻓِﻴَﺔِ ﺭَﺃْﺱِ ﺃَﺣَﺪِﻛُﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﻫُﻮَ ﻧَﺎﻡَ ﺛَﻼَﺙَ ﻋُﻘَﺪٍ ، ﻳَﻀْﺮِﺏُ ﻛُﻞَّ ﻋُﻘْﺪَﺓٍ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻟَﻴْﻞٌ ﻃَﻮِﻳﻞٌ ﻓَﺎﺭْﻗُﺪْ ، ﻓَﺈِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻴْﻘَﻆَ ﻓَﺬَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺍﻧْﺤَﻠَّﺖْ ﻋُﻘْﺪَﺓٌ ، ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻮَﺿَّﺄَ ﺍﻧْﺤَﻠَّﺖْ ﻋُﻘْﺪَﺓٌ ، ﻓَﺈِﻥْ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻧْﺤَﻠَّﺖْ ﻋُﻘْﺪَﺓٌ ﻓَﺄَﺻْﺒَﺢَ ﻧَﺸِﻴﻄًﺎ ﻃَﻴِّﺐَ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ، ﻭَﺇِﻻَّ ﺃَﺻْﺒَﺢَ ﺧَﺒِﻴﺚَ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﻛَﺴْﻼَﻥَ
“ Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas .” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)
Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada akhirnya setan terus membisikkan atau merayu supaya orang yang tidur tetap terus tidur dengan mengatakan ‘ malam itu masih panjang’.
Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusinya:
(1) bangun tidur lalu berdzikir pada Allah
(2) kemudian berwudhu
(3) mengerjakan shalat
Faedah dari berdzikir pada Allah ketika bangun tidur, ini kembali pada faedah dari dzikir secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim bahwa dzikir dapat mengusir setan, mendatangkan kebahagiaan, mencerahkan wajah dan hati, menguatkan badan dan melapangkan rezeki. Lihat mengenai Fawaid Dzikir dalam Shahih Al Wabilush Shoyyib hal. 83-153.
Di antara dzikir yang bisa dibaca setelah bangun tidur adalah dzikir berikut ini:
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺃَﺣْﻴَﺎﻧَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﺎ ﺃَﻣَﺎﺗَﻨَﺎ ﻭَﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟﻨُّﺸُﻮْﺭِ
“ Alhamdullillahilladzi ahyaanaa bada maa amaatanaa wa ilaihin nushur ” [artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan]. (HR. Bukhari no. 6325)
Atau bisa pula membaca dzikir berikut,
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻋَﺎﻓَﺎﻧِﻲْ ﻓِﻲْ ﺟَﺴَﺪِﻱْ، ﻭَﺭَﺩَّ ﻋَﻠَﻲَّ ﺭُﻭْﺣِﻲْ، ﻭَﺃَﺫِﻥَ ﻟِﻲْ ﺑِﺬِﻛْﺮِﻩِ
“ Alhamdullillahilladzi afaaniy fii jasadiy, wa rodda alayya ruhiy, wa adzina lii bi dzikrih” [artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berdzikir kepada-Nya]. (HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani)
Adapun shalat malam sendiri adalah kebiasaan yang baik bagi orang beriman di mana waktu akhir malam adalah waktu dekatnya Allah pada hamba-Nya. Dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺃَﻗْﺮَﺏُ ﻣَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺍﻟﺮَّﺏُّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪِ ﻓِﻰ ﺟَﻮْﻑِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﺍﻵﺧِﺮِ ﻓَﺈِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺖَ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﻣِﻤَّﻦْ ﻳَﺬْﻛُﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓِﻰ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ ﻓَﻜُﻦْ
“ Waktu yang seorang hamba dengan Allah adalah di tengah malam yang terakhir. Siapa yang mampu untuk menjadi bagian dari orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah .”(HR. Tirmidzi no. 3579. Shahih menurut Syaikh Al Albani).
Adapun orang yang tidak bangun shubuh hakekatnya masih terikat dengan tiga ikatan tadi. Ia terus dibisikkan oleh setan sehingga tidak bisa bangkit untuk bangun.
Apa Manfaat Bangun Shubuh?
Disebutkan di akhir hadits bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.
Mari terus semangat bangun malam dan bangun Shubuh. Moga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺑَﺎﺭِﻙْ ﻷُﻣَّﺘِﻰ ﻓِﻰ ﺑُﻜُﻮﺭِﻫَﺎ
“ Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya .” (HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:
Kunuz Riyadhis Sholihin , Rais Al Fariq: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliyaa, cetakan pertama, tahun 1430 H.
Shahih Al Wabilush Shoyyib , Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ke-11, tahun 1427 H.

Selesai disusun di Darush Sholihin , 09.23 PM, 20 Rabi’ul Awwal 1436 H
Saudaramu yang mencintaimu karena Allah: Muhammad Abduh Tuasikal
Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom , Instagram RumayshoCom